- News
Sabtu, 29 Nov 2025 22:58 WIB
JAKARTA, Vibrasi.co – Dunia hiburan Tanah Air kembali diselimuti duka mendalam. Aktor senior berkarakter kuat, Gary Iskak, dikabarkan meninggal dunia pada hari ini, Sabtu, 29 November 2025. Gary mengembuskan napas terakhirnya di usia 52 tahun setelah mengalami kecelakaan sepeda motor di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Kepergian sosok yang dikenal ramah namun garang di layar kaca ini meninggalkan jejak karya yang panjang dan kisah transformasi hidup yang menginspirasi banyak orang.
Berikut adalah profil lengkap, perjalanan karier, hingga kisah hijrah Gary Iskak yang menyentuh hati.
Gary Iskak bukanlah nama baru dalam industri perfilman Indonesia. Darah seni mengalir deras dalam dirinya. Ia lahir dengan nama lengkap Muhammad Gary Iskak pada 10 Juli 1973.
Gary tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kental dengan dunia seni peran. Ia merupakan putra dari pasangan Irwan Iskak dan Winny Sukmawardani. Tak banyak yang tahu bahwa Gary adalah keponakan dari bintang-bintang besar era lawas seperti Boy Iskak, Indriati Iskak, dan Alice Iskak. Latar belakang inilah yang kemudian membentuk bakat alamiahnya di depan kamera.
Nama Lengkap: Muhammad Gary Iskak
Tempat, Tanggal Lahir: Bogor/Jakarta, 10 Juli 1973
Wafat: Jakarta, 29 November 2025
Pasangan: Richa Novisha
Anak: Muhammad Adilla Rafisya Iskak, Taqya Zahra Mikaela Iskak
Karier Gary Iskak dimulai pada pergantian milenium. Debutnya ditandai lewat film “Bintang Jatuh” (2000), sebuah karya eksperimental dari Rudi Soedjarwo yang langsung mencuri perhatian kritikus.
Namun, namanya benar-benar melambung ketika ia membintangi film hits “30 Hari Mencari Cinta” (2004). Posturnya yang tinggi besar dengan tatapan tajam sering kali membuatnya mendapatkan peran antagonis atau sosok “bad boy”.
Puncak pengakuan kemampuan aktingnya terjadi pada tahun 2007. Lewat film “D’Bijis”, Gary melakukan transformasi luar biasa dengan memerankan karakter banci yang sangat ikonik. Peran ini membuktikan rentang aktingnya yang luas—ia bisa menjadi sosok yang sangat menakutkan, namun di saat yang sama bisa menjadi sangat jenaka. Penampilannya di film ini bahkan mendapat penghargaan Pemeran Pendukung Pria Terbaik di Indonesian Movie Actors Awards 2007.
Filmografi populer Gary Iskak meliputi:
30 Hari Mencari Cinta (2004)
Ungu Violet (2005)
D’Bijis (2007)
Merah Itu Cinta (2007)
Kawin Kontrak 3 (2013)
Warkop DKI Reborn (2019)
Sebagai figur publik, hidup Gary Iskak tidak lepas dari sorotan tajam, termasuk masa-masa sulitnya. Gary secara terbuka mengakui pernah terjerumus ke dalam lembah hitam narkoba. Ia sempat berurusan dengan hukum terkait kasus penyalahgunaan narkotika pada tahun 2007.
Selain masalah hukum, Gary juga sempat berjuang melawan masalah kesehatan serius. Ia pernah mengidap Hepatitis C dan penyakit liver kronis yang sempat membuatnya kritis pada tahun 2021. Perjuangan melawan penyakit ini menjadi salah satu titik balik dalam hidupnya untuk merenungi segala perbuatannya di masa lalu.
Salah satu warisan cerita paling kuat dari Gary Iskak adalah perjalanan spiritualnya. Dalam beberapa tahun terakhir sebelum wafat, Gary terkenal sebagai sosok yang telah berhijrah.
Bersama sang istri setia, Richa Novisha, Gary memutuskan untuk meninggalkan gaya hidup lamanya dan mendalami agama Islam. Keputusan itu muncul setelah ia merasa “tersentil” oleh berbagai cobaan hidup. Termasuk sakit parah dan kerugian finansial yang pernah ia alami.
Sahabat dekatnya, Aden Bajaj, memberikan kesaksian bahwa Gary telah berubah total. Gary terkenal rajin mengingatkan rekan-rekannya untuk salat di lokasi syuting dan selalu berusaha menjaga wudu. “Gue sudah ninggalin semua (masa lalu kelam), gue cuma mau istiqomah,” adalah pesan yang kerap ia sampaikan di berbagai kesempatan wawancara media.
Kepergian Gary Iskak yang mendadak akibat kecelakaan lalu lintas tentu mengejutkan banyak pihak. Ia meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di RS dr. Suyoto, Jakarta Selatan.
Gary Iskak terkenang bukan hanya sebagai aktor watak yang brilian. Tetapi juga sebagai seorang pejuang kehidupan. Yang berani mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri hingga akhir hayatnya. Transformasinya dari sosok “bad boy” menjadi ayah dan suami yang religius adalah inspirasi nyata bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik.
Selamat jalan, Gary Iskak. Karyamu abadi, kisahmu menginspirasi.
Posted in News