- Index
Jumat, 28 Nov 2025 22:41 WIB
JAKARTA, Vibrasi.co – Bencana hidrometeorologi basah kembali menghantam wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Hujan dengan intensitas ekstrem yang mengguyur sejak Rabu malam (26/11) memicu banjir bandang dan tanah longsor (galodo) di sejumlah titik krusial pada Jumat, 28 November 2025.
Bencana ini mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur, memutus akses jalan nasional, dan menelan korban jiwa. Berikut adalah kronologi lengkap, dampak kerusakan, dan update terkini dari lokasi kejadian.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, petaka bermula dari curah hujan tinggi yang merata di wilayah Bukit Barisan sejak dua hari terakhir.
Rabu Malam (26/11): BMKG Minangkabau mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Hujan lebat mulai mengguyur kawasan hulu di Gunung Marapi dan Singgalang.
Kamis (27/11): Debit air di batang air (sungai) utama seperti Batang Agam dan Batang Lampasi meningkat drastis. Longsoran kecil mulai dilaporkan di wilayah Malalak dan Sitinjau Lauik.
Jumat Dini Hari (28/11): Puncak bencana terjadi. Sekitar pukul 02.00 – 04.00 WIB, banjir bandang (galodo) menerjang pemukiman warga di Kabupaten Agam (Kecamatan Ampek Nagari dan Malalak) serta Kabupaten Limapuluh Kota. Material lumpur bercampur kayu gelondongan menghantam rumah warga yang sedang terlelap.
Dampak dari bencana ini sangat masif dan melumpuhkan aktivitas ekonomi serta transportasi di Sumatera Barat.
Jalur vital Padang – Bukittinggi via Malalak kembali lumpuh total akibat tertimbun material longsor setinggi 2 meter. Sementara itu, Jalan Lintas Sumbar – Riau di kawasan Pangkalan, Limapuluh Kota, terendam banjir setinggi 1,5 meter, membuat arus logistik antar-provinsi terhenti total sejak pagi tadi.
Di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, tercatat sementara:
Puluhan rumah rusak berat terseret arus galodo.
Jembatan penghubung antar-nagari putus, mengisolasi ratusan kepala keluarga (KK).
Fasilitas sekolah dan rumah ibadah terendam lumpur pekat.
Tim SAR Gabungan hingga Jumat siang (28/11) masih berjibaku melakukan pencarian. Data sementara menyebutkan:
12 Orang Meninggal Dunia (tersebar di Agam dan Limapuluh Kota).
9 Orang Masih Dinyatakan Hilang (diduga terseret arus sungai).
Ratusan warga mengalami luka-luka dan ribuan lainnya mengungsi ke posko darurat.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari ke depan.
Gubernur Sumatera Barat dalam keterangan persnya di Padang meminta seluruh alat berat dikerahkan ke titik longsor. “Prioritas utama kita hari ini adalah evakuasi korban yang masih hilang dan membuka akses jalan yang terisolir agar bantuan logistik bisa masuk,” tegasnya.
BPBD bersama TNI/Polri saat ini fokus pada pembersihan material longsor di jalur Malalak dan distribusi makanan siap saji ke posko pengungsian di Limapuluh Kota.
Bencana pada akhir November 2025 ini mengingatkan kembali pada trauma “Galodo Marapi” tahun-tahun sebelumnya. Para ahli lingkungan menilai, selain faktor cuaca ekstrem (La Nina), alih fungsi lahan di area hulu sungai dan pertambangan ilegal masih menjadi faktor utama yang memperparah dampak banjir bandang.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai yang berhulu di Gunung Marapi dan Singgalang, mengingat hujan diprediksi masih akan turun hingga awal Desember.
| Lokasi Terdampak | Jenis Bencana | Status Terkini |
| Kab. Agam (Malalak, Ampek Nagari) | Banjir Bandang & Longsor | Jalan Putus, Pencarian Korban |
| Kab. Limapuluh Kota (Pangkalan) | Banjir Luapan Sungai | Jalan Sumbar-Riau Lumpuh, Rumah Terendam |
| Kab. Tanah Datar | Banjir Lahar Dingin (Susulan) | Siaga I, Warga Mengungsi |