Rekening Dormant Diblokir Pemerintah, Berikut Fatwa Terbaru MUI

-
Selasa, 25 Nov 2025 22:20 WIB

No Comments

WhatsApp Image 2025-11-23 at 13.40.59_afa7051f

JAKARTA, Vibrasi.co – Ketua MUI Bidang Fatwa Prof Asrorun Niam Sholeh menjelaskan, salah satu fatwa yang terbit dalam Forum Munas MUI. Munas ini berlangsung 20-23 November 2025 di Jakarta. Seperti Fatwa tentang Rekening Dormant jawaban pertanyaan oleh PPATK. Fatwa MUI menegaskan bahwa rekening dormant statusnya masih punya pemilik. Karenanya Bank wajib memberi tahu kepada pemilik atau ahli warisnya.

“Penetapan fatwa tentang Status Dormant ini sebagai respon atas permohonan dari PPATK,” katanya. PPATK menjelaskan bahwa sesuai data yang mereka miliki, ada lebih 190 T rupiah yang masuk kategori dormant. Kemudian setelah klarifikasi, masih ada 50 T lebih uang yang tak bertuan.

Karenanya, MUI memberikan jawaban hukum Islam tentang status rekening dormant serta perlakuannya. Tujuannya sebagaian pedoman kebijakan. Sehingga harapannya ada perbaikan pengelolaan, mewujudkan kemaslahatan, dan menghindari kemafsadatan. Di satu sisi jangan sampai didiamkan tanpa upaya mengingatkan kepada pemilik. “Tetapi di sisi lain juga jangan sampai diam tak produktif”, ujar Niam di Jakarta, Senin (24/11/2025).

Lebih lanjut Guru Besar Bidang Ilmu Fikih ini menegaskan bahwa pada hakekatnya rekening yang berstatus dormant secara syari masih menjadi hak dari pemilik rekening. “Rekening dormant itu secara syari masih haknya nasabah. Karenanya pihak bank wajib memberitahu dan mengingatkan pemilik rekening dormant tentang status kepemilikannya. Dan jika ternyata pemiliknya tidak ada atau tidak diketahui, maka statusnya sebagai dana tak bertuan, yang dalam fikih masuk kategori al-mal al-dlai’, maka dana rekening dormant tersebut wajib diserahkan kepada lembaga sosial untuk kemaslahatan umum”, tegas Niam.

Jika rekening dormant tersebut di Lembaga keuangan syariah, tambah Niam, wajib mengelola dengan prinsip syariah, di antaranya dengan menyerahkan dana rekening dormant ke lembaga sosial Islam seperti BAZNAS, untuk kepentingan kemaslahatan umat.

Fatwa ini juga menegaskan, setiap muslim tidak boleh menelantarkan dana sia-sia tanpa pemanfaatan. “Tindakan menelantarkan dana melalui rekening dormant yang mengakibatkan hilangnya manfaat harta atau terjadinya penyalahgunaan dan kejahatan, hukumnya haram”, tegasnya.

Sebelumnya, PPATK mengajukan permohonan fatwa ke MUI terkait dengan beberapa masalah komtemporer terkait transaksi keuangan. Dalam presentasinya di depan Komisi Fatwa MUI, PPATK menjelaskan adanya rekening dormant yang jumlahnya sangat besar dan ada yang terindikasi sebagai tindak pidana.

Di samping fatwa tentang Pajak Berkeadilan, Munas MUI XI juga menetapkan empat fatwa lainnya, yaitu Fatwa tentang Kedudukan Rekening Dormant dan Perlakuan Terhadapnya, Fatwa tentang Pedoman Pengelolaan Sampah di Sungai, Danau, dan Laut, untuk Kemaslahatan, Fatwa tentang Status Saldo Kartu Uang Elektronik yang Hilang atau Rusak, dan Fatwa tentang Kedudukan Manfaat Produk Asuransi Kematian pada Asuransi Jiwa Syariah.

Fatwa ini hasil pembahasan para Ulama dari Komisi Fatwa seluruh Indonesia. Serta pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dan Pondok Pesantren.

Secara lengkap, naskah fatwa tentang Status Rekening Dormant dan Perlakuan Terhadapnya, sebagai berikut:

Ketentuan Umum
1. Harta (al-māl) adalah segala sesuatu yang bernilai dan dapat dimiliki serta dimanfaatkan secara sah menurut syariat Islam.
2. Rekening Dormant adalah rekening bank dan/atau lembaga keuangan lainnya yang tidak aktif dan/atau tidak digunakan untuk transaksi selama jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan.

Ketentuan Hukum
1. Status dana dalam rekening dormant adalah milik nasabah.
2. Pihak bank dan/atau lembaga keuangan lainnya wajib memberitahu dan mengingatkan pemilik rekening dormant tentang status kepemilikannya.
3. Jika dalam waktu tertentu setelah pemberitahuan dan peringatan, rekening dormant tidak diaktifkan oleh pemilik, maka dana rekening dormant tersebut wajib diserahkan kepada lembaga sosial. Untuk kemaslahatan umum. Kemudian untuk menghindari penyalahgunaan, perlu penutupan rekening. Tujuannya untuk menghindari penyalahgunaan.
4. Lembaga keuangan syariah yang memiliki rekening dormant wajib mengelola dengan prinsip syariah, di antaranya dengan menyerahkan dana rekening dormant ke lembaga sosial Islam seperti BAZNAS, untuk kepentingan kemaslahatan umat.
5. Tindakan menelantarkan dana melalui rekening dormant yang mengakibatkan hilangnya manfaat harta atau terjadinya penyalahgunaan dan kejahatan, hukumnya haram.

Rekomendasi
1. Pemilik rekening hendaknya menjaga dan memanfaatkan harta/dana miliknya untuk kepentingan produktif atau kemaslahatan.
2. Pihak bank dan/atau lembaga keuangan lainnya wajib mencegah terjadinya penyalahgunaan rekening dormant.
3. Pemerintah melalui otoritas yang berwenang (seperti PPATK, OJK, dan Kementerian Keuangan) wajib melakukan tindakan penanganan dan pengamanan terhadap dana dalam rekening dormant, dengan tetap menjaga hak pemilik yang sah sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundangan yang berlaku.

Share :

Posted in

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklanIKN

Berita Terbaru

Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terpopuler

Share :