- Ekonomi
Senin, 17 Nov 2025 02:07 WIB
JAKARTA – Upaya Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan literasi ekonomi syariah di tengah perkembangan era digital menghadapi beragam tantangan. Karena itu, diperlukan strategi komunikasi agar pesan ekonomi syariah bisa sampai ke masyarakat luas.
Hal ini disampaikan praktisi komunikasi sekaligus pegiat literasi ekonomi syariah, Erwin Dariyanto, dalam kegiatan Training of Trainer (ToT) Ekonomi Syariah yang digelar BI bersama Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi). Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (14/11/2025) hingga Sabtu (15/11/2025) di Hotel Sari Pacific, Jakarta.
Erwin menjelaskan, media massa masih menjadi jalur penting untuk mengampanyekan ekonomi syariah. BI dan para pemangku kepentingan harus memahami dua tantangan pada era digital, yakni rendahnya minat baca dan berubahnya cara masyarakat menerima informasi.
Menurut Erwin, perlu ada penyesuaian strategi komunikasi untuk menyikapinya. Satu di antaranya melalui artikel-artikel yang ringan, menarik, dan menggunakan bahasa sederhana. Selama ini, banyak istilah ekonomi syariah yang masih sulit dipahami masyarakat awam. “Masyarakat suka dengan berita-berita ringan, menarik, dan inspiratif. Mereka tidak suka dengan berita dengan bahasa, katakanlah terlalu ‘tinggi’ yang sulit dipahami,” kata Erwin yang juga managing editor detik.com ini.
Dia mengatakan, banyak istilah ekonomi syariah yang hanya dapat dipahami kalangan tertentu, antara lain para akademisi, praktisi, dan pelaku industri syariah. Padahal, kampanye ekonomi syariah harus menyasar semua pihak hingga level masyarakat umum. Penguatan literasi ekonomi syariah ini pun membutuhkan inovasi dan kolaborasi.
Maka itu, BI bersama kementerian dan lembaga terkait ekonomi syariah harus bekerja sama dengan jurnalis, praktisi, dan akademisi untuk menyederhanakan konsep dan istilah dalam ekonomi syariah. “BI bersama kementerian dan lembaga terkait ekonomi syariah harus duduk bareng dengan jurnalis, praktisi, dan akademisi untuk merumuskan istilah dan konsep ekonomi syariah dengan bahasa ringan yang mudah dipahami masyarakat,” ujar Erwin yang juga salah satu ketua departemen di Forjukafi ini.
Dia mengatakan, artikel ekonomi syariah dapat pula dikemas lebih menarik dengan tambahan infografis, foto, tabel, atau video yang interaktif. Visualisasi semacam ini dapat membantu dalam menjangkau lebih banyak pembaca. “Orang yang awalnya gak tertarik (membaca), tetapi karena fotonya menarik, infografisnya bagus, ada video jadi tertarik untuk membaca,” katanya menjelaskan.
Sementara itu, menurut Erwin, kampanye ekonomi syariah dituntut lebih adaptif terhadap perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih sering mendapatkan informasi dari media sosial. “Apakah itu YouTube, Twitter, Instagram, Tiktok atau Facebook,” kata Erwin.
Erwin juga mengajak seluruh peserta ToT, baik jurnalis maupun praktisi komunikasi di lembaga pemerintah, untuk giat mengampanyekan literasi ekonomi syariah.
Posted in Ekonomi