- Index
Selasa, 14 Mei 2024 09:30 WIB
Oleh : Rosilawati dan Viena Rusmiati Hasanah (Mahasiswi Doktoral UPI Bandung)
Sebuah potret kehidupan terekam saat publik memperbincangkan tentang makin banyaknya usia lanjut di Indonesia sebagai buah naiknya angka harapan hidup.
Adalah seorang lansia yang tinggal di kawasan Cileunyi Kulon, Kabupaten Bandung Jawa Barat yang warga di sekitar tempat tinggalnya memanggilnya Nenek Nono. Ia seorang lansia yang di usia senjanya masih berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri dengan berdagang makanan.
Potret Nenek Nono di desa Cileunyi Kulon adalah sebuah fakta bahwa walau usia menjelang senja, tetapi produktivitas tetap terjaga dengan memanfaatkan potensi yang di milikinya.
Potret kehidupan nenek Nono terekam oleh Rosilawati dan Viena, dua kandidat Doktor yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung program studi Pendidikan Masyarakat.
Menjadi sebuah keniscayaan bila kita harus lebih banyak memberikan perhatian pada lanjut usia ini. Bukan pada persoalan usianya, tetapi lebih pada mengisi aktivitas kehidupannya. Banyak fakta dan hasil penelitian yang menunjukkan seseorang dengan rentang usia 65 sampai ke 78 tahun masih mampu hidup produktif.
Semisal di Desa Dengok, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta, di sana telah terbentuk desa ramah lansia. Sebuah gagasan dari warga peduli lansia yang selanjutnya mendapat dukungan dari pemerintah daerah.
Umumnya warga lansia di desa ini secara fisik masih bugar, terbiasa dengan aktifitas pertanian, dan terbiasa hidup bersama dengan keluarga besarnya sesuai konsep budaya yang dijalankannya.
Dokter Anton, seorang dokter yang bertugas di salah satu RSUD di Kuningan, Jawa Barat, pernah membuat kajian empirik tentang lansia di Jawa Barat. Kajian itu menyebutkan, ada dua kebiasaan yang dapat mempertahankan produktivitas lanjut usia. Yaitu menjaga interaksi dan relasi dalam keluarga, dan mempertahankan kebiasaan produktif sesuai kapasitas usia.
Pada yang kedua terbukti Nenek Nono warga Cileunyi Kulon mampu melakukannya. Ia dapat mempertahankan aktivitas di usia senjanya tetap terisi.
Kemampuan dalam meracik makanan menjadi media untuk tetap produktif di usia senjanya. Dagangan kulinernya walaupun hanya berupa olahan makanan, tetapi banyak peminatnya karena selain terjaga kualitas, juga rasanya yang membuat banyak pembelinya. Tidak jarang pembeli antri untuk bisa membeli sajian kuliner nenek Nono ini.
Ia memang tidak sendiri, ada peran serta pihak keluarga lainnya. Tetapi pengambilan keputusan tetap ada di tangan Nenek Nono.
Berkaca pada cerita sukses nenek Nono, ini bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah dan berbagai lembaga sosial untuk kreatif membuat tawaran program bagi lansia.
Semisal yang ada di desa Dengok Yogyakarta yang berupaya mewujudkan desa ramah lansia, kota ramah lansia, akan menjadi inspirasi membuat model maju berkembang di usia senja, tanpa kehilangan jati diri.
Pemberdayaan bagi lanjut usia menunjukkan betapa pentingnya peran serta berbagai elemen (privat public partnership). Di antaranya memperkuat pendidikan masyarakat tentang lansia. Langkah ini juga dilakukan oleh Universitas Pendidikan Indonesia, melalui kerja sama dengan mahasiswa program Doktoral Program Pendidikan Masyarakat.
Dalam implementasinya, masyarakat akan mendapat pemahaman baru tentang pentingnya mengubah paradigma terhadap lanjut usia. Lansia potensial seperti Nenek Nono bukanlah beban bagi masyarakat, melainkan merupakan aset berharga yang dapat memberikan kontribusi positif.
Pendidikan masyarakat ini tidak hanya memberikan pemahaman baru, tetapi juga membuka pandangan masyarakat tentang potensi yang dimiliki oleh lanjut usia.